Malam Jumat Pon. Bulan bundar. Kau ada di hadapanku. Di warungku. Dan kita sama-sama diam tak bersuara. Hanya mata kita yang saling bicara. Persis saat pertama kali kita bertemu di Sendang Ontrowulan, dua puluh dua tahun yang lalu.
AKHIRNYA kau yang duluan membuka mulut dengan pelitnya, “Kopi hitam”. Aku bergeming sebentar, lalu bangkit dari duduk, meraih gelas dan toples yang berisi bubuk kopi. Aku hapal maumu: kopi dua sendok penuh, air panas setengah gelas, tanpa gula, dan diamkan sebentar sebelum diaduk.
Aku sadar matamu menguasaiku walau kau berpura-pura mengeluarkan sebatang rokok kretek dari saku kemejamu. Matamu masih sama ketika kuletakkan segelas kopi di depanmu. Hingga aku bersuara kemudian.
“Mengapa kau di sini?”
“Seperti kebanyakan orang yang datang ke Kemukus”
“…”
“Dan kau, mengapa tetap di sini?”
“Seperti kebanyakan lonte tua yang harus pensiun”
Lalu terjadi geming panjang antar kita. Panjang sekali. Entah di mana ekornya. …baca lebih lanjut