satu pagi di kamarmandi

aku bunuh sebuah pagi dalam kamarmandi yang menyanyi
setelah sebelumnya dikejutkan
oleh sisa doa
yang
tak
habis
dimakan tikus tadi malam

bersama pagi kubunuh seikat waktu yang dibeli di supermarket seminggu lalu
bau kulkas, ujarmu
dari atas ranjang yang juga bau
mani

maka tandaslah
angkaangka
alamatalamat
deringdering
maka mampuslah
tanyajawab
hirukpikuk
basabasi
tinggal kamarmandi menangis

O, kamarmandi yang merah karena pagi yang berdarah
karena waktu yang bernanah
karena bau yang payah
karena bulan yang patah
karena buku yang terkunyah
karena televisi yang marah
karena weker hamil tua

petojo, 140110

Dan Malam Pun Retak

Malam Jumat Pon. Bulan bundar. Kau ada di hadapanku. Di warungku. Dan kita sama-sama diam tak bersuara. Hanya mata kita yang saling bicara. Persis saat pertama kali kita bertemu di Sendang Ontrowulan, dua puluh dua tahun yang lalu.
AKHIRNYA kau yang duluan membuka mulut dengan pelitnya, “Kopi hitam”. Aku bergeming sebentar, lalu bangkit dari duduk, meraih gelas dan toples yang berisi bubuk kopi. Aku hapal maumu: kopi dua sendok penuh, air panas setengah gelas, tanpa gula, dan diamkan sebentar sebelum diaduk.
Aku sadar matamu menguasaiku walau kau berpura-pura mengeluarkan sebatang rokok kretek dari saku kemejamu. Matamu masih sama ketika kuletakkan segelas kopi di depanmu. Hingga aku bersuara kemudian.
“Mengapa kau di sini?”
“Seperti kebanyakan orang yang datang ke Kemukus”
“…”
“Dan kau, mengapa tetap di sini?”
“Seperti kebanyakan lonte tua yang harus pensiun”
Lalu terjadi geming panjang antar kita. Panjang sekali. Entah di mana ekornya. …baca lebih lanjut