another society is possible
another society is possible

Tuhan Bukan Maha Penulis Skenario


TUHAN memang Maha Segala. Beliau Maha Pencipta juga Maha Kuasa. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun terasa masgyul ketika kemalangan menghadang umat manusia, Tuhan dicap sebagai diktator ulung. Karena Dia memang bukan Maha Penulis Skenario, seharusnya.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di awal bulan Februari, banjir menakuti warga Jakarta (lebih tepatnya Jabodetabek). Genangan air dari semata kaki hingga melewati mata beneran tergambar di hampir setiap sudut kota. Hampir semua aktivitas terhenti. Ada yang terhenti karena memang harus terhenti, namun ada yang sengaja mengkambinghitamkan banjir sebagai alasan tidak produktifnya hidup. Ya, ternyata kota yang penuh dengan keangkuhan ini, yang dikenal sebagai Kota Tak Pernah Tidur, harus rela mati suri juga.

Kesombongan kota dan penghuninya malah tidak terdistorsi oleh fenomena alam ini. Bukannya bersemangat untuk berintropeksi, kita malah semakin semangat untuk mencari ‘pelaku’ dari semua ini. Setiap warga, dari buruh hingga intelek, berlomba untuk menyimpulkan siapa yang patut disalahkan. Warga menyalahkan pemerintah, pemerintah menyalahkan warga. Tak ada satu pengakuan pun yang mengamini bahwa kesalahan juga terkandung pada diri kita masing-masing. Setelah kita lelah mencari ‘sang pelaku’ tersebut, Tuhan (yang lagi-lagi) menjadi jawaban atas ketidakberdayaan kita.

Kita simak beberapa cerita berikut ini:

Di satu program televisi swasta rendahan bernama infotainment, Sys NS berkata, “Mari kita berdoa bersama biar Tuhan tak menambah cobaan yang diberikan-Nya…”. Atau Fauzi Bowo berujar ketika diwawancara oleh RCTI, “Saya kira tak ada satu presiden pun, satu bangsa pun, satu republik pun yang mampu melawan alam…”. Atau kita simak pemberitaan yang dilakukan media cetak maupun televisi, terutama yang bernuansa agamis. Mereka dengan serta merta menafsirkan segala penderitaan ini terjadi karena ada campur tangan Tuhan. Tuhan telah marah dengan menghukum umatnya yang nakal. Mereka terlupa akan kemampuan berpikir mereka untuk menalar ini semua secara lebih ilmiah (baca: arif). Dari peryataan-peryataan di atas, tentu kita akui bagaimana cara pikir kita dalam memetakan posisi Tuhan dalam penderitaan. Tuhan menjadi konyol. Yang sedang kepingin marah, dan melampiaskannya begitu saja.

Sedemikian arogankah Tuhan itu? Mengapa setiap bencana alam meminta derita, kita malah ‘menyerang’ Tuhan? Apa cadangan jawaban kita untuk mengartikan bencana secara penalaran sudah habis stoknya? Tuhan bukan Maha Penulis Naskah yang dengan seenak udel-nya membuat plot-plot getir ataupun mengarang adegan-adegan tragedi seperti yang dilakukan oleh sinetron-sinetron tolol di televisi. Sampai pada satu keyakinan, jika Dia memang penulis skenario, Dia pastilah seorang penulis skenario atau sutradara yang demokratis, yang membiarkan para aktor maupun aktrisnya melakukan improvisasi di panggung. Yang tidak dengan mematok harga mati lakon yang dimainkan.

Apa kita terlalu buta hati dalam menyikapi bencana ini? Kesalahan kita, keserakahan kita, kealpaan kita terhadap alamlah yang menyebabkan semua ini terjadi. Hukum Kausal (hubungan sebab-akibat) tentunya berlaku pada alam. Apa yang ditanam, itulah yang dituai. Keinsyafan harus lahir bukan pada bencana maupun menjelang bencana. Namun harus terus menerus hidup dalam tiap hari, ada atau tiada bencana sekalipun.

Perilaku buang sampah sembarangan, mengejar sisi bisnis dalam pembangunan gedung-gedung demi keuntungan kantong pribadi yang mengorbankan lahan serap air, ketidaksadaran dalam kerja bakti di lingkungan masing-masing, memang buru-buru harus kita tanggalkan. Dan mungkin ada sejuta perilaku buruk kita lainnya yang terninabobokan oleh keterbiasaan ini.

“Sosok yang kulihat tadi subuh dari jendela kamar ternyata lebih bercerita banyak, membuat hatiku bonyok: Seorang lelaki setengah tua, berjalan telanjang kaki mendorong gerobak air ke arah pasar, di tengah hujan lebat, di antara raga yang terlelap di pukul empat pagi। Ya, separuh kakinya dan roda gerobaknya terendam air. Tapi ia tak menyalahkan siapa-siapa”.

Dimuat di Syir’ah, 13 Maret 2007

Leave a Reply

One thought on “Tuhan Bukan Maha Penulis Skenario”

%d bloggers like this: